Minggu, 02 September 2018
MU’JIZAT MERAWAT ORANG TUA
Uang bisa dicari.
Ilmu bisa digali.
Sakit bisa diobati.
Waktu untuk merawat orang tua takkan terulang lagi.
Ketika seorang anak beranjak dewasa dan menemukan jodohnya, dia akan mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk mengasihi belahan jiwa tambatan hatinya. Apalagi ketika sang anak mulai membangun keluarga kecil sendiri bersama putra-putri yang lahir dari pernikahan mereka. Habislah waktu untuk mengurusi keluarga kecil mereka. Tidak tersisa lagi waktu untuk mengurusi orangtua. Bahkan tidak jarang sang anak lalu seolah-olah menjadi lupa dengan kedua orang tuanya sendiri yang seumur hidupnya mencurahkan kasih sayang tak terbilang.
Orang tua yang semula disayangi, dihormati begitu mulianya, mendadak mulai terasa jadi sangat cerewet, dan menjadi merepotkan bahkan dianggap jadi sumber berbagai masalah rumah tangga. Apalagi bila sang anak tidak bisa menyatukan hati suami/istrinya dengan kedua orangtuanya.
Jangankan merawat orang tua di saat sakit/susah untuk membalas kasih sayangnya, tidak sedikit anak yang malas datang ke rumah orangtuanya atau sekedar menelpon menanyakan kabarnya. "Males ah. Kalo ketemu atau negor malah jadi masalah. Problem terus yang diomongin. Ga pernah yang enak. Mending dicuekin aja lah. Masalah ngurus keluarga sendiri aja sudah susah ini malah ditambah masalah orangtua" mungkin begitu alasan sang anak.
Padahal sejatinya tidak ada satupun orang tua yang tega menyusahkan anak kandung buah hatinya. Kalaupun terpaksa jadi sedikit merepotkan sang anak karena jatuh sakit atau tak berdaya di masa tuanya, pasti orangtua akan keluar kata "mohon maap yah jadi merepotkan." Hati anak soleh mana yang tidak haru kalau orangtuanya sudah begitu. Pasti akan meleleh hatinya dan lahir keikhlasan rasa kasih sayangnya untuk membalas limpahan kasih sayang orangtuanya yang telah menyayanginya di waktu kecil.
Di sisi lain, bagi anak-anak yang ikhlas merawat orang tuanya di masa tua sampai akhir hayatnya, banyak sekali kisah-kisah nyata yang menggambarkan buah manis balasan ridho Alloh kepada sang anak yang berasal dari ridho orangtuanya. Hal itu tercermin dalam bentuk kesuksesan karir dan keberkahan hidupnya di dunia, dan Insya Alloh di akhirat kelak. Mereka cenderung menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Penuh berkah.
Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, Iyas-salah satu sahabat mulia Rosulullah SAW- meneteskan air mata tanpa meratap, lalu beliau ditanya seorang sahabat tentang sebab tangisannya.
Jawabnya, “Alloh bukakan untukku beberapa pintu surga, sekarang satu pintu telah ditutup.”
Begitulah, orangtua adalah pintu masuk surga, bahkan pintu yang paling tengah di antara pintu-pintu yang lain.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, "ORANG TUA adalah PINTU SURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya.”
(HR Tirmidzi)
Al-Qadhi berkata, ” Maksud pintu surga yang paling tengah adalah PINTU YANG PALING BAGUS dan PALING TINGGI. Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orang tua dan merawatnya.”
Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita masih ada pintu surga yang masih terbuka lebar. Terlebih bila orang tua telah berusia lanjut. Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun dan terkesan cerewet, atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir.
SUNGGUH TERLALU, ORANG YANG MENDAPATI ORANG TUANYA BERUSIA LANJUT, TAPI IA TIDAK MASUK SURGA, PADAHAL KESEMPATAN BEGITU MUDAH BAGINYA.
Rosululloh SAW bersabda: “Sungguh celaka! sungguh celaka! sungguh celaka!” Seseorang bertanya “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, "Sungguh celaka seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2551)
Ia tidak masuk surga karena menjadi anak durhaka, yang tidak berbakti, tidak mau iklas mentaati perintahnya, tidak mau berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya agar lemah lembut kepada mereka, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri.
Ingatlah: “Ridho Alloh tergantung pada ridho orang tua dan murka Alloh tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2, shahih).
SAATNYA BERKACA DIRI, SUDAH LAYAKKAH KITA DISEBUT SEBAGAI ANAK YANG BERBAKTI ?
SUDAH LAYAKKAH KITA MEMASUKI PINTU SURGA YANG PALING TENGAH ?
Nasihat baik ini bagus juga kita sampaikan kepada anak-anak kita. Juga sebagai pengingat bagi diri kita sendiri. Semoga hari2 penuh barokah membuka pintu hidayah bagi kita semua. Aamiin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar