Senin, 11 Februari 2019

6 ALASAN MENGAPA ISLAM MELARANG SUAMI MEMBENTAK ISTRI

1. Membentak istri bertentangan dengan pesan Rasulullah solallohu 'alaihi wa salam.

Sebagai umat Rasulullah, tidakkah Anda tergerak untuk meneladani Beliau dalam memperlakukan istrinya? Jika ya, simak langsung nasihat Rasulullah dalam hadist, yang artinya: "Sebaik-baik kalian, (adalah) yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku. (HR. Tirmidzi)

2. Jasa-jasa istri tak terukur materi.
Meski sering dianggap sepele, tapi istri memiliki sumbangsih yang besar untuk kelangsungan kehidupan rumah tangga, seluruh pengorbanan tersebut tidak akan pernah bisa dinilai dengan materi. Misalnya: mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat buah hati Anda. Selain itu, istri masih mampu mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan Anda serta memastikan rumah selalu nyaman dihuni keluarga.

3. Doa istri kepada suami sangat mustajabah.
Salah satu doa yang mustajabah adalah doa istri untuk suaminya. Bagaimana istri bisa mendoakan kebaikan Anda kalau setiap hari Anda sakiti hati dan perasaannya. Tahukah Anda jika doa istri sangat bermanfaat untuk mempercepat kesuksesan, kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah bagi suami?

4. Wanita tercipta dari tulang rusukmu yang bengkok.
Wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, dekat dengan hati, jadi untuk dicintai. Bentakan dan perilaku kasarmu bisa menjadi penyebab perceraian.
   //////sedangkan Perceraian itu hanya diperintahkan oleh setan dan tukang sihir, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala, “ Mereka belajar dari keduanya sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya .” (QS. Al-Baqarah: 102)
Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya, maka yang akan menjadi pasukan yang paling dekat dengan dia adalah yang paling banyak fitnahnya. Lalu ada yang datang dan berkata, ‘Saya telah berbuat ini dan itu’. Maka iblis berkata, ‘Engkau tidak berbuat apa-apa’. Kemudian ada yang datang lagi dan berkata, ‘Saya tidak meninggalkan seorang pun kecuali telah aku pisahkan antara dia dengan istrinya’. Maka iblis mendekatkan dia padanya dan mengatakan, ‘Engkaulah sebaik-baik pasukanku’ .” (Muslim, no.2167)

5. Bentakan dan sikap keras suami membuat wanita semakin lemah.
Wanita itu makhluk yang kuat, dia bisa melakukan apa saja serta menahan derita apapun demi mendukung suami dan keluarganya. Tapi manakala dibentak sama suami, rontoklah kekuatannya selama ini. Bentakan suami tidak hanya membuat hati dan perasaannya terluka, tapi juga meremukredamkan seluruh jiwa dan raganya.

6. Menyakiti istri sama artinya menyakiti anak-anakmu.
Membentak istri membuatnya sedih dan sakit hati atau bahkan terluka, apakah Anda yakin jika hal ini tidak berdampak pada anak-anak. Dalam rasa sakit hatinya, pasti istri tidak bisa maksimal dalam merawat dan mendampingi anak-anaknya. Sudah banyak bukti nyata bahwa sakit hatinya ibu akibat perlakuan suaminya bisa jadi berdampak buruk pada anak-anaknya.

Ikhwan fillah

Bocoran Iblis kepada Nabi Nuh As

Ini Dua Bocoran Iblis kepada Nabi Nuh As, Ketika bertemu Nabi Nuh As., Iblis membocorkan dua hal yang sering ia gunakan untuk menggoda manusia,

 apa saja dua hal itu?

Permusuhan antara manusia dan Iblis sudah terjadi sejak awal penciptaan manusia.
Permusuhan di antara keduanya berawal pada saat Iblis menolak perintah Allah Ta’ala untuk bersujud dalam bentuk penghormatan kepada Nabi Adam As.

Sejak saat itulah Iblis mendeklarasikan permusuhannya kepada Adam As. dan seluruh keturunannya.

Iblis memohon kepada Allah agar diberikan penangguhan waktu untuk menggoda anak cucu Adam As. agar terjerumus kepada kesesatan sehingga dapat menemaninya kelak di neraka jahanam.

Berbagai cara telah dilakukan Iblis beserta bala tentaranya untuk menggiring manusia kepada jalan kesesatan yang penuh kehinaan.

Tidak henti-hentinya Iblis menggoda manusia dari berbagai jalan agar manusia terjerumus dalam jurang kesesatan dan kehinaan.

Untuk melindungi manusia dari kesesatan dan mengembalikannya kepada jalan yang lurus Allah Ta’ala mengutus para Nabi dan Rasul beserta umatnya yang saleh untuk membimbing manusia agar selalu berada di jalan yang ridai oleh Allah Ta’ala.

Telah banyak  nasehat yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul berserta orang-orang saleh mengenai berbagai tipu daya Iblis dan langkah-langkahnya agar terhindar dari tipu daya tersebut.

 Sebagaimana dikisahkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Al Ghazalli (w. 505 H) mengenai perjumpaan Nabi Nuh As. dengan Iblis.

Suatu hari ketika Nabi Nuh As. menaiki kapalnya, ia melihat seorang laki-laki tua yang tidak dikenalnya. Lantas, Nabi Nuh As. bertanya kepada lelaki tua tersebut, “Apa yang menyebabkan dirimu masuk kepal ini ?” Lelaki tua itu menjawab, “Aku masuk ke kapal ini agar aku dapat mempengaruhi hati pengikut mu supaya hati mereka bersama ku dan akan tetapi badan mereka bersama engkau.”

Lalu Nabi Nuh As. berkata kepadanya “Keluarlah engkau (dari kapal ini) wahai musuh Allah!” Rupanya, lelaki tua itu adalah Iblis yang mencoba mempengaruhi hati umat Nabi Nuh As. agar ingkar dengan sesuatu yang dirisalahkan kepada Nabi Nuh As.

Iblis itu kemudian berkata, “Ada lima hal yang lazimnya aku gunakan untuk mencelakakan manusia. Aku akan memberitahukan tiga halnya itu dan aku rahasiakan dua hal lainnya.”
Maka Allah berfirman kepada Nabi Nuh As. “Sesungguhnya engkau tidak memerlukan yang tiga hal itu. Perintahlah ia (Iblis) untuk memberitahukan kepada engkau dua hal saja.” Nabi Nuh As. pun memerintahkan Iblis itu agar menyebutkan dua hal saja.

Iblis berkata, “Dengan kedua hal itu aku mencelakakan manusia dan keduanya tidak berdusta.

Kedua hal itu ialah hasad dan sifat tamak. Karena sifat hasad, aku dilaknat oleh Allah dan dijadikannya aku setan yang terkutuk. Dan karena sifat tamak, aku memperbolehkan kepada Adam As. seluruh apapun yang ada di surga, lalu aku mendapatkan hal yang aku inginkan darinya (yakni dapat mengeluarkan Adam As. dari surga karena disebabkan Iblis membujuk Adam As. untuk memakan buah Khuld) dan aku pun diusir dari surga.”

Dari kisah di atas dapat kita ambil pelajaran, bahwasanya dua senjata utama Iblis yang digunakan untuk mencelakakan manusia yakni menimbulkan dalam diri manusia sifat hasad (dengki) dan tamak (sarakah).

Sifat hasad merupakan bentuk pengingkaran akan ketentuan dan ketetapan Allah yang telah menetapkan takdir setiap makhluk-Nya. Maka, orang yang memiliki sifat hasad akan bersikap tidak senang atas kenikmatan yang Allah karuniakan kepada seseorang.

Dikatakan menurut sebagai Ulama hikmah, sifat hasad (dengki) merupakan sifat tercela pertama yang ada dalam diri seorang makhluk. Sedangkan sifat tamak merupakan ambisi untuk mendapatkan segala hal yang diinginkannya dengan berbagai cara apapun, ia tidak memperpedulikan apakah dengan caranya tersebut dapat mendatangkan rahmat Allah atau justru mengundang amarah-Nya.

Tamak atau rakus banyak menyebabkan seorang hamba terjerumus kepada hal-hal yang dimurkai oleh Allah Ta’ala. Namrud, Fir’aun, dan Qarun merupakan contoh orang-orang yang tamak, rakus akan kekuasaan maupun rakus akan harta.

Sifat hasad dan tamak merupakan hasil dari tidak bersyukurnya seorang hamba atas nikmat dari Allah Ta’ala.

Manusia yang memiliki sifat hasad dan tamak akan selalu memandang segala nikmat dari Allah terhadap dirinya adalah sesuatu hal yang remeh, sedangkan ia memandang atas karunia dan nikmat dari Allah terhadap orang lain adalah sesuatu hal yang agung.

Semoga Allah memberikan perlindungan-Nya kepada seluruh umat Islam atas godaan Iblis beserta bala tentaranya.
Wallaahu a’lam.

ILMU DAN KEMAUAN SERTA PERANNYA DALAM MENCAPAI KEBAHAGIAAN


KARYA IMAM IBNUL QOYYIM AL JAUZIYAH


Perkataan Imam Ali,

"Mereka menyertai dunia dengan jasad mereka sementara ruh-ruh mereka tergantung ke langit (al-mala ‘ ul a 'la)."



Ruh, di dalam jasad ini, berada di negeri asing. la punya tempat tinggal yang lain. la tidak tenang tinggal selain di negerinya



Ruh adalah jauhar 'alawy (elemen langit), tercipta dari bahan langit. la
terpaksa mendiami badan kasat ini. la senantiasa mencari tempatnya di tempat
ketinggian. la merindu kan negeri itu seperti burung yang merindukan sarangnya.


Semua ruh punya perasaan seperti itu. Akan tetapi, karena terlalu sibuk dengan
badan dan hal-hal inderawi yang biasa dirasakan, ia tenggelam di bumi dan melupakan jati dirinya dan negerinya yang hanya di sanalah ia merasakan kebahagiaan.


Bagi mukmin tidak ada kebahagiaan melebihi pertemuan dengan
tuhannya, dan dunia dirasakannya benar-benar penjara. Oleh karena itu, Anda lihat orang beriman, raganya di dunia dan ruhnya di alam arwah.



Dalam sebuah hadits
disebutkan,

"Apabila seorang hamba tidur sambil sujud, Allah SWT membanggakannya di hadapan para malaikat.

Dia berfirman,

'Lihatlah hamba-Ku ini! Raganya di bumi dan ruhnya bersama-Ku.'"


Dalam kaitan ini seorang ulama salaf berkata,

"Hati manusia itu pengembara. Ada hati yang berada di sekitar hasyr (tempat pengumpulan di hari kiamat), ada yang bersama para malaikat mengelilingi singgasana Allah."



Jadi siksa yang paling besar bagi ruh adalah bila ia terbenam di dalam raga, sibuk dengan kesenangan-kesenangan semu, tidak memperhati kan tujuan penciptaan nya dan tidak memikir kan negerinya, tempat kebahagiaan serta tempat kemuliaannya.



Akan tetapi, mabuk nafsu syahwat menghalangi ruh merasakan sakit dan siksa ini. Apabila ia telah sadar dari mabuknya, penyesalan mengepung nya dari semua sisi.
Saat itu ia amat sedih dan menyesal karena kehilangan kemuliaan dan kedekatan dengan
Allah SWT.


Ia juga sedih karena tidak mencapai tempat tinggalnya di mana ia dapat menemukan kebahagiaan.


Meski ruh menjelajahi semua tempat yang ada, ia tidak akan tenang kecuali di tempat tinggalnya sendiri yang disiapkan untuknya.


Ruh selamanya merindu kan tanah airnya, walaupun ada tempat tinggal pengganti
yang seringkali lebih baik dan lebih subur. Ruh itu selalu merindukan tempat tinggalnya yang asli meski tidak ada mudarat yang menimpa bila ia meninggalkannya
dan pindah ke tempat lain. Tentunya kerinduan ruh kepada tempat asalnya semakin
besar jika perpisahannya dengannya menyebab kan ia tersiksa.


Hamba beriman di dunia ini diculik dan ditawan dari surga ke negeri kesengsaraan, lalu dijadikan budak di negeri itu. Bagaimana dia dicela karena merindukan negeri asalnya, dipisahkan dari yang dicintainya, dan dikumpulkan dengan musuhnya.


Jadi, ruhnya senantiasa terikat dengan negeri asalnya, sedang badannya di dunia.
Setiap kali musuh menginginkan agar ruh melupakan tempat asalnya, maka ia
membuang jauh-jauh ingatan akan tempat itu dan menciptakan kesenangan dalam
hatinya dengan negeri baru, namun ruh dan hatinya tetap menolak.



Oleh karena itu, orang mukmin itu orang asing di dunia ini. Di manapun ia menginjakkan kaki, ia merasa berada di tempat asing.


Rasulullah saw. bersabda,

"jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan!"
(HR Bukhari)



Akan tetapi, keterasingan itu ada akhirnya. Ia akan kembali ke negeri dan tempat asalnya.


Sedangkan, keterasingan yang tiada harapan akan berakhir adalah
keterasingan di negeri kehinaan dan berpisah dengan negeri yang telah disiapkan untuk seorang hamba.


Negeri di mana ia diperintahkan untuk mempersiapkan diri
menuju ke sana namun ia bersikeras untuk meninggalkannya.


Itulah keterasingan
yang takkan berakhir dan musibahnya pun tidak bisa diobati.



Anda jangan tergesa-gesa mengingkari pernyataan bahwa badan ini ada di dunia sedangkan ruh berada di alam arwah.


Ruh punya karakter tersendiri yang berbeda
dengan karakter badan.

Nabi saw. berada di tengah para sahabat, tapi beliau di sisi tuhan diberi makanan dan diberi minum. Jadi, raga beliau di tengah mereka sedang ruh beliau bersama Tuhan.



Abu Darda' r.a. berkata,

"Apabila seorang hamba tidur, bersama ruhnya ia naik ke bawah 'arsy (singgasana Allah). Jika ia suci, ia diizinkan untuk sujud. Tapi bila tidak
suci, ia tidak diizinkan bersujud." Inilah —mungkin— sebab diperintahkannya orang
yang junub untuk berwudhu apabila ingin tidur. Naik menuju 'arsy ini hanya terjadi karena berlepasnya ruh dari raga ketika tidur.


Apabila ruh melepaskan diri dari raga
dengan suatu sebab yang lain, ia akan mengalami kenaikan sesuai dengan kadar
pelepasan diri itu.


Cinta terhadap kekasih menjadi kuat sedemikian rupa sehingga
yang terlihat oleh manusia adalah raganya saja, sedang ruhnya di tempat lain bersama
kekasihnya.


Dalam kaitan ini banyak syair dan hikayat yang dikenal dalam masyarakat.



Perkataan salaf

"Mereka itulah khalifah-khalifah Allah SWTdi bumi-Nya
dan para dai-Nya kepada agama-Nya",

merupakan penguat bagi salah satu dari dua
pendapat tentang kebolehan mengatakan "Si Fulan adalah khalifah Allah".


Yang berpendapat seperti ini juga berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut.


(1) Firman-Nya kepada para malaikat,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-
Baqarah: 30)


(2) Firman-Nya,

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." (al-An'aam:
165)



Firman ini ditujukan kepada manusia.
(3)

Juga dengan firman-Nya,

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila
ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan
kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?" (an-Naml: 62)