Senin, 11 Februari 2019

ILMU DAN KEMAUAN SERTA PERANNYA DALAM MENCAPAI KEBAHAGIAAN


KARYA IMAM IBNUL QOYYIM AL JAUZIYAH


Perkataan Imam Ali,

"Mereka menyertai dunia dengan jasad mereka sementara ruh-ruh mereka tergantung ke langit (al-mala ‘ ul a 'la)."



Ruh, di dalam jasad ini, berada di negeri asing. la punya tempat tinggal yang lain. la tidak tenang tinggal selain di negerinya



Ruh adalah jauhar 'alawy (elemen langit), tercipta dari bahan langit. la
terpaksa mendiami badan kasat ini. la senantiasa mencari tempatnya di tempat
ketinggian. la merindu kan negeri itu seperti burung yang merindukan sarangnya.


Semua ruh punya perasaan seperti itu. Akan tetapi, karena terlalu sibuk dengan
badan dan hal-hal inderawi yang biasa dirasakan, ia tenggelam di bumi dan melupakan jati dirinya dan negerinya yang hanya di sanalah ia merasakan kebahagiaan.


Bagi mukmin tidak ada kebahagiaan melebihi pertemuan dengan
tuhannya, dan dunia dirasakannya benar-benar penjara. Oleh karena itu, Anda lihat orang beriman, raganya di dunia dan ruhnya di alam arwah.



Dalam sebuah hadits
disebutkan,

"Apabila seorang hamba tidur sambil sujud, Allah SWT membanggakannya di hadapan para malaikat.

Dia berfirman,

'Lihatlah hamba-Ku ini! Raganya di bumi dan ruhnya bersama-Ku.'"


Dalam kaitan ini seorang ulama salaf berkata,

"Hati manusia itu pengembara. Ada hati yang berada di sekitar hasyr (tempat pengumpulan di hari kiamat), ada yang bersama para malaikat mengelilingi singgasana Allah."



Jadi siksa yang paling besar bagi ruh adalah bila ia terbenam di dalam raga, sibuk dengan kesenangan-kesenangan semu, tidak memperhati kan tujuan penciptaan nya dan tidak memikir kan negerinya, tempat kebahagiaan serta tempat kemuliaannya.



Akan tetapi, mabuk nafsu syahwat menghalangi ruh merasakan sakit dan siksa ini. Apabila ia telah sadar dari mabuknya, penyesalan mengepung nya dari semua sisi.
Saat itu ia amat sedih dan menyesal karena kehilangan kemuliaan dan kedekatan dengan
Allah SWT.


Ia juga sedih karena tidak mencapai tempat tinggalnya di mana ia dapat menemukan kebahagiaan.


Meski ruh menjelajahi semua tempat yang ada, ia tidak akan tenang kecuali di tempat tinggalnya sendiri yang disiapkan untuknya.


Ruh selamanya merindu kan tanah airnya, walaupun ada tempat tinggal pengganti
yang seringkali lebih baik dan lebih subur. Ruh itu selalu merindukan tempat tinggalnya yang asli meski tidak ada mudarat yang menimpa bila ia meninggalkannya
dan pindah ke tempat lain. Tentunya kerinduan ruh kepada tempat asalnya semakin
besar jika perpisahannya dengannya menyebab kan ia tersiksa.


Hamba beriman di dunia ini diculik dan ditawan dari surga ke negeri kesengsaraan, lalu dijadikan budak di negeri itu. Bagaimana dia dicela karena merindukan negeri asalnya, dipisahkan dari yang dicintainya, dan dikumpulkan dengan musuhnya.


Jadi, ruhnya senantiasa terikat dengan negeri asalnya, sedang badannya di dunia.
Setiap kali musuh menginginkan agar ruh melupakan tempat asalnya, maka ia
membuang jauh-jauh ingatan akan tempat itu dan menciptakan kesenangan dalam
hatinya dengan negeri baru, namun ruh dan hatinya tetap menolak.



Oleh karena itu, orang mukmin itu orang asing di dunia ini. Di manapun ia menginjakkan kaki, ia merasa berada di tempat asing.


Rasulullah saw. bersabda,

"jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan!"
(HR Bukhari)



Akan tetapi, keterasingan itu ada akhirnya. Ia akan kembali ke negeri dan tempat asalnya.


Sedangkan, keterasingan yang tiada harapan akan berakhir adalah
keterasingan di negeri kehinaan dan berpisah dengan negeri yang telah disiapkan untuk seorang hamba.


Negeri di mana ia diperintahkan untuk mempersiapkan diri
menuju ke sana namun ia bersikeras untuk meninggalkannya.


Itulah keterasingan
yang takkan berakhir dan musibahnya pun tidak bisa diobati.



Anda jangan tergesa-gesa mengingkari pernyataan bahwa badan ini ada di dunia sedangkan ruh berada di alam arwah.


Ruh punya karakter tersendiri yang berbeda
dengan karakter badan.

Nabi saw. berada di tengah para sahabat, tapi beliau di sisi tuhan diberi makanan dan diberi minum. Jadi, raga beliau di tengah mereka sedang ruh beliau bersama Tuhan.



Abu Darda' r.a. berkata,

"Apabila seorang hamba tidur, bersama ruhnya ia naik ke bawah 'arsy (singgasana Allah). Jika ia suci, ia diizinkan untuk sujud. Tapi bila tidak
suci, ia tidak diizinkan bersujud." Inilah —mungkin— sebab diperintahkannya orang
yang junub untuk berwudhu apabila ingin tidur. Naik menuju 'arsy ini hanya terjadi karena berlepasnya ruh dari raga ketika tidur.


Apabila ruh melepaskan diri dari raga
dengan suatu sebab yang lain, ia akan mengalami kenaikan sesuai dengan kadar
pelepasan diri itu.


Cinta terhadap kekasih menjadi kuat sedemikian rupa sehingga
yang terlihat oleh manusia adalah raganya saja, sedang ruhnya di tempat lain bersama
kekasihnya.


Dalam kaitan ini banyak syair dan hikayat yang dikenal dalam masyarakat.



Perkataan salaf

"Mereka itulah khalifah-khalifah Allah SWTdi bumi-Nya
dan para dai-Nya kepada agama-Nya",

merupakan penguat bagi salah satu dari dua
pendapat tentang kebolehan mengatakan "Si Fulan adalah khalifah Allah".


Yang berpendapat seperti ini juga berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut.


(1) Firman-Nya kepada para malaikat,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-
Baqarah: 30)


(2) Firman-Nya,

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." (al-An'aam:
165)



Firman ini ditujukan kepada manusia.
(3)

Juga dengan firman-Nya,

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila
ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan
kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?" (an-Naml: 62)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar